DESA KAYU BATU
Jln. dr. Nazir RT III
Kamis, 04 November 2010
Rabu, 03 November 2010
Sejarah Desa Kayu Batu
1. Legenda dan Sejarah Desa
a. Legenda Desa
Asal Usul Desa Kayu Batu dulunya memang masih berupa hutan yang berada dipinggir sungai Mahakam tepatnya rantau Mahakam Ilir, kemudian seseorang yang di utus oleh kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura agar dapat menetap diperantauan yang kemudian disusul oleh perantau yang dating dari Kalimantan Selatan, dating dari Sulawesi yaitu suku Bugis bernama Puang Dinga’ Ketiga yaitu Suku Kutai, suku Banjar dan suku Bugis saling bersatu yang akhirnya beranak pinak kemudian menjadi kampong Kayu Batu (yang dulunya memang ada sejarah bahwa di muara sungai ada kayu yang menjadi batu maka dinamailah kampong Kayu Batu, sedangkan rumah (pondok) yang dihuni beratapan daun selingsing dinding juga dari dari daun selingsing dengan lantai terbuat dari bamboo, batang pinang setelah dihaluskan, atau menggunakan kulit batang kayu, pakaian juga banyak yang terbuat dari kulit kayu (Jomo’) dengan mata pencaharian sebagai petani, sambil menanam pisang, umbi-umbian, dan sebagian nelayan untuk memenuhi kebuituhan hidup sehari0hari. Sampai dengan sekarang situs sejarah itu masih ada yaitu makam atau Kuburan yang terletak di Nusa Sawar tertulis di Nisan yang ada tahun 1313H dan beberapa makam lainnya yang nisan terbuat dari kayu sebagian masih ada dan sebagiannya habis dimakan zaman.
Pada waktu itu zaman penjajahan Belanda dan di kutai masih dipimpin oleh Seorang Raja yaitu Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang mana pada waktu itu rakyat harus taat dan patuh pada perintah Raja, yaitu terkenal dengan istilah suka membantu raja dalam bentuk gotong royong, ada yang membawa beras, ayam, telur, ikan untuk menghadapi pesta Tahunan yaitu ERAU. Disamping harus patuh kepada raja juga harus patuh pada Pemerintah Belanda terutama membayar upeti (pajak) Blestenk.
Kemudian terjadi peristiwa yang sangat buruk berupa wabah penyakit cholera dan lain sebagainya, pihak Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura mendengar berita itu lalu mendatangi perkampungan dan memerintahkan untuk pindah ke Rantau Buayang yang sekarang Desa Kayu Batu dekat dengan Muara Muntai, yang saat itu memaksa masyarakat untuk membuka perkampungan baru dengan membersihkan ditepi sungai Rantau Buayang, membabat hutan rimba untuk dijadikan perkampungan, dan harus membuat lagi rumah untuk pemungkiman baru dan pada waktu itu setiap rumah di huni oleh beberapa kepala keluqarga atau dengan istilah “Belamin” setelah menetap dirantau buayang beberapa tahun kemudian diangkatlah petinggi Pertama yaitu :
Bernama :
- KOHOT menjadi petinggi dari Tahun 1917 – 1928
- BIYAU menjadi petinggi dari Tahun 1928 – 1935
- ADJAB menjadi petinggi dari Tahun 1935 – 1948
Pemerintahan Belanda mempekerjakan Rakyat/Masyarakat untuk membuat jalan atau istilahnya pada waktu itu Straat yang kurang lebih panjangnya jalan yang dibuat 10 KM, yaitu dari seberang Kayu Batu sampai digunung Belah, selang beberapa Bulan pada Tahun 1942 datanglah tentara Jepang menyerang tentara Belanda kemudian dikalahkan oleh Tentara Jepang. Yaitu selanjutnya Jepang membuat markas di Muara Muntai.
Selang beberapa waktu datanglah Tentara Merah Putih secara diam-diam kepada petinggi yang bernama ADJAB bin AMIN lalu membuat suatu rencana untuk melawan Tentara Jepang yang di pimpin oleh BRIGJEN SAMBAS dari JAKARTA lalu membentuk VETERAN dengan nama “BARISAN SEDEWA” bernama, bersetu dengan tekad yang bulat terkenal dengan “JEMPOL DARAH” artinya berani mati untuk memperjuangkan harkat dan martabat Bangsa Indonesia.
Anggota Veteran pada waktu itu adalah sebagai berikut :
Nama :
- ADJAB Bin AMIN
- DANEL berasal dari MA.PAHU adalah sepupu dari ADJAB Bin AMIN
- EGOT berasal dari MA. PAHU juga sepupu dari ADJAB bin AMIN
- TAMAN KUJEH (dayak) dari rondong dagang Kayu Batu
- ALI adalah adik ipar ADJAB Bin AMIN
- BEKEU dan ANAKNYA dari MA. WIS sepupu dari ADJAB Bin AMIN
- ASMA’I, IMPONG, IDEMON anak dari ADJAB Bin Amin.
Dan ditambah satu orang yang berasal dari MA. ANCALONG yang juga ada hubungan keluarga dengan ADJAB Bin AMIN. Kesemuanya bersatu untuk perang dengan tentara Jepang, pada waktu mengadakan penyerangan dengan alat perang yang sederhana yaitu Mandau dan Tombak maka terjadilah pada waktu itu, yang kemudian tentara Jepang ada beberpa orang yang mati dan pihak kita ada tiga orang yang mati terkena peluru menghujani seluruh badan yang bernama ALI, BEKEU dan ANAKNYA sampai sekarang masih ada kuburannya (makamnya). Sesudah itu tentara Jepang dating dari Samarinda dengan menggunakan kapal perangnya untuk menyerang MUARA MUNTAI akan tetapi telah diketahui oleh Masyarakat MUARA MUNTAI dan semuanya melarikan diri dengan berpencar agar tidak diketahui oleh Tentara Jepang dan akhirnya setelah tentara Sekutu menyerang Kota Jepang HIROSIMA dan NAGASAKI dengan Bom Atom maka Jepang menyerah pada Tahun 1945 saat itulah sang Proklamator menyatakan Bangsa Indonesia “ MERDEKA “ yaitu SOEKARNO dan MOH. HATTA.
Nama SAMAIN menjadi Petinggi pada Tahun 1948 – 1949 Pada waktu itu terjadi peristiwa buruk yaitu wabah penyakit cacar dan koreng sehingga bagi yang terkena penyakit di karantina di muara sungai Batu Bumbun untuk menghindari tertularnya penyakit kepada Masyarakat lainnya.
Setelah itu diangkat lagi seorang bernama M. IDEMON sebagai Kepala Kampung Kayu Batu menjabat dari Tahun 1949 – 1964, mendapat bantuan untuk membangun 2 ruang Kelas yaitu Sekolah SD 004 Kayu Batu.
Dilanjutkan lagi dengan diangkat KADRI sebagai Kepala Kampung Kayu Batu bertugas dari Tahun 1964 – 1965 selama satu tahun dikarenakan masa Transisi yaitu peristiwa G 30 S / PKI.
Dikarenakan mengalami masa transisi maka diangkat lagi M. IDEMON sebagai Kepala Kampung dan bertugas dari tahun 1965 – 1966.
Pada Tahun 1966 diangkat Kepala Kampung bernama M.JAILANI beliau bertugas sampai dengan Tahun 1978 dengan perwakilan Puandana bernama NYIREN (suku Dayak) dari Ma.Ohong kampong Mea, dimasa kepemimpinan beliau yang cukup lama, tidak ada yang di sebut dengan honor atau uang untuk kesejahteraan, pada waktu itu ada menerima bantuan untuk Masjid berupa Toa/Mic waktu RADEN PATMO menjadi seorang RESIDEN KALTIM kemudian sekitar Tahun 1969/1970 ada bantuan dari Pemerintah Daerah Rp. 50.000 /Tahun dana tersebut digunakan untuk membangun pagar di di sepanjang Desa Kayu Batu, dana dari Daerah terus ada digabungkan dengan bantuan Pemerintah Provinsi sebesar Rp. 100.000,- Dana tersebut digunakan untuk Pembangunan Jalan Jambatan Dari Nusa Tuna menuju Nusa Bawe sepanjang 115 Meter, di akhir Jabatan Beliau Mendapat Bantuan dari Pemerintah Daerah sebesar Rp. 100.000,- ditambah dengan Bantuan Pemerintah Provinsi dan Dana tersebut digunakan untuk membangun Balai Desa dengan Pola Padat Karya (Bantuan Masyarakat) swadaya dengan ukuran bangunan 8 x 25.20 M.
Pada Tahun 1978 diangkat Kepala Desa Bernama M. BAKRI beliau menjabat sebagai Kepala Desa sampai dengan Tahun 1981, pada periode itu setiap Tahun mendapat Dana Bantuan Desa (BANDES), mendapat Bantuan Ternak Sapi, dan Ayam. Setelah melalui proses pemilihan lagi beliau terpilih lagi sebagai Kepala Desa untuk periode berikutnya yaitu Dari tahu 1981 sampai dengan Tahun 1988. Sesudah itu maka diangkatlah JUMRAN SAAL sebagai Care Taker sebelum proses pemilihan Kepala Desa berlangsung dan juga mendapat bantuan dari Pemerintah Daerah dari Tahun 1988 – 1999 setelah itu tahun 1999 – 2000 Proses Pemilihan Kepala Desa Maka terpilihlah JUMRAN SAAL untuk periode 2000 sampai dengan Tahun 2005 ikit melaksanakan Program GERBANG DAYAKU kemudian diangkatlah Pj. Kepala Desa Bernama SAKHRAN yang sekarang sebagai Sekretaris Desa, setelah habis masa Jabatan Pj. Kepala Desa maka diadakan Proses Pemilihan Kepala Desa Sekarang diawal Jabatan melanjutkan program GERBANG DAYAKU yang perencanaan pembangunan akan dilaksanakan lewat ABT (Anggaran Belanja Tambahan) dilaksanakan pada Tahun 2008 bersamaan dengan di berlakukannya Program ADD (ALOKASI DANA DESA) terhitung mulai Januari 2008.
Tahun Kejadian | Peristiwa Baik | Peristiwa Buruk |
1912 | Terjadi wabah Penyakit Cholera | |
1917 | Diangkat Secara Musyawarah oleh Penduduk Sebagai Petinggi Yaitu Bapak KOHOT | |
1942 – 1945 | Penjajahan Jepang | |
1946 | Penjajahan Belanda Agresi ke 02 | |
1948 – 1949 | Terjadi Wabah Penyakit Cacar & Koreng | |
1964 | Dapat Bantuqan II Ruang Kelas SD 004 | |
1964 – 1965 | Pemberontakan G 30 S / PKI | |
1966 | Diangkat Kepala Kampung Bernama M. JAILANI | |
1967 | Menerima Bantuan Toa/Mic Untuk Masjid | |
1969 – 1970 | Raden Patmo menjadi Seorang Residen Kaltim | |
1970 – 1971 | Bantuan dari Pemerintah Daerah Rp. 50.000,- / Tahun + Bantuan Pemerintah Provinsi Rp. 100.000,- / Tahun Membangun Jembatan Nusa Tuna ke Nusa Bawe Sepanjang 115 Meter | |
1973 | Mendapat Bantuan Beras Bulgur | |
1978 – 1988 | Diangkat Kepala Desa M. BAKRI dapat BANDES | |
1982 – 1983 | Kemarau Panjang Selama 11 Bulan | |
1988 – 1999 | Diangkat Jumran SAAL Sebagai Care Taker Dapat BANDES | |
1991 | Bantuan Jembatan 600 Meter | |
1993 | Kemarau Lagi Selama 5 Bulan | |
1998 | Dapat Bantuan Beras Pemerintah | |
1999 – 2000 | Proses Pemilihan Kepala Desa Terpilih JUMRAN SAAL untuk Periode 2000 – 2005 | |
2005 | Melaksanakan Program Gerbang Dayaku Tahap Pertama | |
2006 | Diangkat Pj. Kepala Desa Bernama SAKHRAN Bantuan Modal Usaha LPD | |
2007 | · Gotong Royong Pembangunan Masjid · Proses Pemilihan Kepala Desa Secara Demokratis Terpilihnya Bapak DARMANSYAH Melanjutkan Program GERBANG DAYAKU Tahap II melalui ABT | Banjir Besar Selama 1 Bulan |
2008 | Masuknya Perogram Alokasi Dana Desa ( ADD ) | |
2009 | Pelaksanaan Program Alokasi Dana Desa (ADD) | Terjadinya Angin Kencang Merobohkan Pohon Menimpa Rumah Warga |
2010 | Pelaksanaan Program Alokasi Dana Desa (ADD) | |
Langganan:
Postingan (Atom)